Memoir Tanah Air

Bukan mudah membuat spekulatif
Siapa rektor
Siapa kurator
dan siapa pula poter di tanah sendiri

Bukan mudah memilih garis terjal dan kalis kehancuran
siapa mungkin yang mengutip kuasa uca
dan kemudian memberikan aspirasi
terhadap kemenangan yang tidak pernah terucap

Bukan lagi tipografi Barat yang pernah menendang
menghentam
mencerna
darah yang membuak-buak
yang membasah segala ketaksaan
yang sengaja ditutup
dipadamkan segala maklumat primer
dan diganti maklumat sekunder
tentang kekalutan anak negeri menjadi penderhaka dianjung
sendiri

Alangkah panjangnya mimpi ngeri tentang Datuk Bahaman
tentang Mat Kilau
tentang Datuk Maharaja Lela
dan tentang segala kepastian yang menakutkan
yang meminta segala kekuatan
sampai watikah emas tersusun dipelantar sejarah

Kini setelah 57 tahun Ogos itu bertempik
setelah segala dongengan dogma itu karam di daratan
setelah segala justifikasi implisit itu memuncak
kita sudah bebas melaungkan kemerdekaan
melaungkan kemenangan
kita sudah merdeka
merdeka
merdeka

syukur....munajat anak bangsa sudah dimakbuli
atas segala anarkis kebebasan yang hak

Ternyata omong kosong yang tersebar sejak 1511 penuh
cenangga
ternyata tiada lagi yang berhak mematikan wawasan 2020
ternyata
tiada lagi lagu nuraga yang boleh menyesak ruang ruai pintu
kuala
tiada lagi sengat keteledoran yang boleh menusuk dada
membias segala duka

Biarlah memoir peribadi itu tersimpan di dada kenangan
biarlah segala ingatan itu jadi renungan anak watan
biarlah segalanya jadi panduan yang tidak menjelangkan kekalahan
biarlah segala ritual itu terus tidak berirama
kami sudah bosan dengan penjajahan
hidupkan kami dalam kemerdekaan yang berterusan
merdeka tanah airku
merdeka.